Minggu, 23 Oktober 2011
ulang tahun
Assalamualaikum. Wr. Wb.
Ulang tahun dimata islam seperti apa sih? Apa yang mestinya kita lakukan ataupun sampaikan thdp orang yg berulang tahun.. doa apa yg sepantasnya diucapkan? Apakah ada riwayatnya di zaman Rosulullah yg berhubungan dgn ulang tahun?
Perayaan "Ulang Tahun", mungkin yang anda maksud perayaan Hari (Tanggal) Kelahiran ya?
Mari kita telaah:
1. Dari mana asalnya?
Biasanya ini diiringi dengan acara tiup lilin, sambil menyanyi "Panjang umurnya ... dst" lalu memotong kue, dst.
Bukankah ini adalah adat/ kebiasaan orang non muslim (Yahudi & Nashoro)?
Rosululloh saw bersabda,"Man tasyabbaha bi qoumin fa huwa min hum (Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka)" (HR Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat Abdulloh bin Umar ra. Dishohihkan oleh Al Albani dalam Shohih Al Jami' no 6025) Alloh swt berfirman, yang artinya,"Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu teladan yang baik bagi kalian ..." (Al Ahzab 21). Juga,"Dan ikutilah dia (Muhammad), agar kalian mendapat petunjuk" (Al A'rof 158).
Sebaliknya (artinya),"Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah menguasainya itu dan Kami
masukkan ia ke dalam Jahannam..." (An Nisa 115)
2. Doa apa yang mesti diucapkan? Apa ada riwayat di zaman Rosululloh saw? Tidak ada.
3. Kalau kita sudah menganggap itu kebiasaan, maka seakan-akan jadi "harus (wajib)", bahkan saat kita hanya punya uang sedikitpun, tetap kita merayakannya (jangan-jangan sampai berutangpun kita lakukan). Kalau sudah begini, bukankah sangat memberatkan? Memang hal yang diada-adakan itu biasanya memberatkan, sedangkan Alloh swt menginginkan yang mudah untuk kita. Kalau kita perhatikan, tidak ada satupun perintah Alloh swt yang memaksa (dalam hal materi). Satu-satunya perintah Alloh swt yang "mahal" adalah berhaji ke Baitulloh, tapi inipun Alloh swt syaratkan "Bila mampu".
4. Disekeliling (lingkungan) kita, terkadang, menganggapnya "Sudah biasa", sehingga bila kita katakan bahwa itu "Tasyabbuh 'ala kuffar (Meniru-niru orang kafir)", mungkin kitalah yang dikatakan "Fanatik", "Garis keras", dsb.
Jadi (ini sekedar saran), kalau toh tidak kuasa menghindari acara tsb, paling tidak, janganlah kita membenarkannya (acara tsb) dengan hati. Rosululloh saw bersabda,"Man ro a minkum munkaron falyughoyyirhu bi yadihi, fa illam yastathi' fa bi lisaanihi, fa illam yastathi' fa bi qolbihi wa dzalika adh'aful iimaan (Barangsiapa melihat satu kemungkaran, hendaknya
mencegah dengan tangannya. Kalau tidak mampu, hendaknya mencegah dengan lisannya. Kalau tidak mampu juga, hendaknya mencegah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman)" (HSR Muslim)
Wallohu a'lam
Ulang tahun dimata islam seperti apa sih? Apa yang mestinya kita lakukan ataupun sampaikan thdp orang yg berulang tahun.. doa apa yg sepantasnya diucapkan? Apakah ada riwayatnya di zaman Rosulullah yg berhubungan dgn ulang tahun?
Perayaan "Ulang Tahun", mungkin yang anda maksud perayaan Hari (Tanggal) Kelahiran ya?
Mari kita telaah:
1. Dari mana asalnya?
Biasanya ini diiringi dengan acara tiup lilin, sambil menyanyi "Panjang umurnya ... dst" lalu memotong kue, dst.
Bukankah ini adalah adat/ kebiasaan orang non muslim (Yahudi & Nashoro)?
Rosululloh saw bersabda,"Man tasyabbaha bi qoumin fa huwa min hum (Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka)" (HR Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat Abdulloh bin Umar ra. Dishohihkan oleh Al Albani dalam Shohih Al Jami' no 6025) Alloh swt berfirman, yang artinya,"Sesungguhnya telah ada pada diri Rosululloh itu teladan yang baik bagi kalian ..." (Al Ahzab 21). Juga,"Dan ikutilah dia (Muhammad), agar kalian mendapat petunjuk" (Al A'rof 158).
Sebaliknya (artinya),"Dan barangsiapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah menguasainya itu dan Kami
masukkan ia ke dalam Jahannam..." (An Nisa 115)
2. Doa apa yang mesti diucapkan? Apa ada riwayat di zaman Rosululloh saw? Tidak ada.
3. Kalau kita sudah menganggap itu kebiasaan, maka seakan-akan jadi "harus (wajib)", bahkan saat kita hanya punya uang sedikitpun, tetap kita merayakannya (jangan-jangan sampai berutangpun kita lakukan). Kalau sudah begini, bukankah sangat memberatkan? Memang hal yang diada-adakan itu biasanya memberatkan, sedangkan Alloh swt menginginkan yang mudah untuk kita. Kalau kita perhatikan, tidak ada satupun perintah Alloh swt yang memaksa (dalam hal materi). Satu-satunya perintah Alloh swt yang "mahal" adalah berhaji ke Baitulloh, tapi inipun Alloh swt syaratkan "Bila mampu".
4. Disekeliling (lingkungan) kita, terkadang, menganggapnya "Sudah biasa", sehingga bila kita katakan bahwa itu "Tasyabbuh 'ala kuffar (Meniru-niru orang kafir)", mungkin kitalah yang dikatakan "Fanatik", "Garis keras", dsb.
Jadi (ini sekedar saran), kalau toh tidak kuasa menghindari acara tsb, paling tidak, janganlah kita membenarkannya (acara tsb) dengan hati. Rosululloh saw bersabda,"Man ro a minkum munkaron falyughoyyirhu bi yadihi, fa illam yastathi' fa bi lisaanihi, fa illam yastathi' fa bi qolbihi wa dzalika adh'aful iimaan (Barangsiapa melihat satu kemungkaran, hendaknya
mencegah dengan tangannya. Kalau tidak mampu, hendaknya mencegah dengan lisannya. Kalau tidak mampu juga, hendaknya mencegah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman)" (HSR Muslim)
Wallohu a'lam
Kasih Sayang Rasulullah SAW dalam Keluarga
Ibnu Umar pernah datang
kepada Aisyah RA dan berkata, “Izinkan kami di sini sejenak dan
ceritakanlah kepada kami perkara paling mempesona dari semua yang
pernah engkau saksikan pada diri Nabi.”
‘Aisyah menarik nafas panjang. Kemudian dengan terisak menahan tangis, ia berkata dengan suara lirih, “Kaana kullu amrihi ‘ajaba. Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”
Ibnu Katsir menukil peristiwa ini ketika menafsirkan surat ‘Ali Imran ayat 190-191. Ada yang menjadi tanda-tanya bagi kita sesudah membaca kisah ini. Jika ‘Aisyah berkata, “Kaana kullu amrihi ‘ajaba. Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”; Sku tidak tahu apakah yang akan diucapkan oleh istri kita jika suaminya ditakdirkan meninggal lebih dulu. Saya juga tidak tahu apakah yang akan diucapkan oleh anak-anak kita tentang orangtuanya.
Semuanya terpulang kepada kita. Apakah kita mau mencoba untuk menjadi bapak dan suami yang lebih menyejukkan hati –meski harus gagal berkali-kali—ataukah kita merasa telah cukup mulia dengan perhatian kita yang tak seberapa.
Banyak para bapak enggan mengusapkan tangan ke pipi anaknya yang sedang meneteskan airmata. Mereka juga tidak pernah menyempatkan diri, meski cuma sekali, untuk membaringkan tubuh anaknya yang letih hanya karena mereka merasa telah banyak berjasa dengan mencari uang yang tak seberapa.
Mereka ingin dihormati oleh anak-anaknya, tetapi dengan menciptakan jarak sehingga anak tak pernah sanggup mencurahkan isi hatinya kepada bapaknya sendiri. Mereka ingin menjadi bapak yang disegani, tetapi dengan cara membangkitkan ketakutan. Padahal Rasulullah Saw. sering mencium putrinya, Fathimatuz Zahra. Bahkan ketika putrinya telah beranjak dewasa.
Berikut ini teladan dari Junjungan Kita SAW :
Aisyah r.a.: Ada seorang Arab dusun datang kepada Nabi Saw. sambil berkata, “Engkau mencium anak-anak, sedangkan kami tidak pernah mencium mereka.” Nabi Saw. menjawab, “Apa dayaku apabila Tuhan telah mencabut kasih-sayang dari hatimu.” (HR. Bukhari).
Nabi Saw. mencontohkan bagaimana menyayangi anak. Pernah Rasulullah Saw. menggendong cucunya, Umamah binti Abi Al-Ash, ketika sedang shalat. Jika rukuk, Umamah diletakkan dan ketika bangun dari rukuk, maka Umamah diangkat kembali.
Pernah juga Rasulullah Saw. bermain kuda-kudaan dengan cucunya yang lain,Hasan dan Husain. Ketika Rasulullah Saw. sedang merangkak di atas tanah,sementara kedua cucunya berada di punggungnya, Umar datang lalu berkata,“Hai Anak, alangkah indah tungganganmu.” Rasulullah Saw. menjawab,“Alangkah indahnya para penunggangnya!”
Tak jarang Rasulullah Saw. menghadapi anak-anak dengan sikap melucu. Bila mendatangi anak-anak kecil, Rasulullah Saw. jongkok di hadapan mereka, memberi pengertian kepada mereka, juga mendo’akan mereka. Begitu hadis riwayat Ath-Thusi menceritakan.
Sementara Usamah bin Zaid memberi kesaksian, “(Sewaktu aku masih kecil ) Rasulullah Saw. pernah mengambil aku untuk didudukkan pada pahanya, sedangkan Hasan didudukkan pada paha beliau yang satunya, kemudian kami berdua didekapnya, seraya berdo’a, “Ya Allah,kasihanilah keduanya, karena aku telah mengasihi keduanya.” (HR. Bukhari).
Abu Hurairah ra pernah menceritakan: “Rasulullah saw pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali ra. Iapun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.
Pernah Beliau sholat sambil menggendong Umamah putri Zaenab binti Rasulullah saw dari suaminya yang bernama Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’. Pada saat berdiri, beliau menggendongnya dan ketika sujud, beliau meletakkannya. (Muttafaq ‘alaih)
Kisah tentang Rasulullah Saw. bersama anak adalah kisah tentang kasih-sayang. Ia memendekkan shalatnya ketika mendengar tangis anak. Karena anak pula, Rasulullah Saw. pernah bersujud sangat lama. Begitu lamanya Rasulullah Saw. bersujud sampai-sampai para sahabat mengira Rasulullah Saw. sedang menerima wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah, ada cucu yang menaiki punggungnya.
Tentang mencintai anak, Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, tepatilah. sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki.” (HR. Ath-Thahawi).
Air mata Nabi Muhammad saw menetes disebabkan kematian putra beliau bernama Ibrahim, Abdurrahman bin ‘Auf ra bertanya kepada beliau: “Apakah Anda juga menangis wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah Ta’ala. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari)
Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah, namun Nabi Muhammad saw tidaklah marah, memukul, membentak, dan menghardik mereka. Beliau tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang dalam menghadapi mereka.
Hari ini, ketika kita mengaku sebagai ummat Muhammad, apakah yang sudah kita lakukan pada anak-anak kita? Apakah kita telah mengusap kepala anak-anak kita sebagaimana Rasulullah Saw. melakukan? Apakah kita juga telah mengecup kening anak-anak kita yang sangat rindu kasih-sayang bapaknya?
Ataukah kita seperti Aqra’ bin Habis At-Tamimi yang tak pernah
mencium anaknya, sehingga Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari).
Kita ingin disayangi oleh anak-anak kita ketika usianya telah tua, tetapi tidak pernah menanam cinta dan kasih-sayang. Kita ingin dirindukan oleh anak-anaknya di saat renta, tetapi tak pernah punya waktu untuk tertawa bersama. Banyak yang merasa, kerja sehari telah cukup untuk membeli semua. Sehingga tidak ada yang mengetahui urusan anak di rumah, kecuali istri. Bahkan yang lebih tragis, istri pun tak tahu sama sekali, sebab telah ada pembantu yang menggantikan semuanya.
Astaghfirullahal ‘adzim. Alangkah sering kita merasa suci, padahal tak satu pun perilaku Nabi Saw kepada anak atau istri yang sanggup kita contoh.
‘Aisyah menarik nafas panjang. Kemudian dengan terisak menahan tangis, ia berkata dengan suara lirih, “Kaana kullu amrihi ‘ajaba. Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”
Ibnu Katsir menukil peristiwa ini ketika menafsirkan surat ‘Ali Imran ayat 190-191. Ada yang menjadi tanda-tanya bagi kita sesudah membaca kisah ini. Jika ‘Aisyah berkata, “Kaana kullu amrihi ‘ajaba. Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”; Sku tidak tahu apakah yang akan diucapkan oleh istri kita jika suaminya ditakdirkan meninggal lebih dulu. Saya juga tidak tahu apakah yang akan diucapkan oleh anak-anak kita tentang orangtuanya.
Semuanya terpulang kepada kita. Apakah kita mau mencoba untuk menjadi bapak dan suami yang lebih menyejukkan hati –meski harus gagal berkali-kali—ataukah kita merasa telah cukup mulia dengan perhatian kita yang tak seberapa.
Banyak para bapak enggan mengusapkan tangan ke pipi anaknya yang sedang meneteskan airmata. Mereka juga tidak pernah menyempatkan diri, meski cuma sekali, untuk membaringkan tubuh anaknya yang letih hanya karena mereka merasa telah banyak berjasa dengan mencari uang yang tak seberapa.
Mereka ingin dihormati oleh anak-anaknya, tetapi dengan menciptakan jarak sehingga anak tak pernah sanggup mencurahkan isi hatinya kepada bapaknya sendiri. Mereka ingin menjadi bapak yang disegani, tetapi dengan cara membangkitkan ketakutan. Padahal Rasulullah Saw. sering mencium putrinya, Fathimatuz Zahra. Bahkan ketika putrinya telah beranjak dewasa.
Berikut ini teladan dari Junjungan Kita SAW :
Aisyah r.a.: Ada seorang Arab dusun datang kepada Nabi Saw. sambil berkata, “Engkau mencium anak-anak, sedangkan kami tidak pernah mencium mereka.” Nabi Saw. menjawab, “Apa dayaku apabila Tuhan telah mencabut kasih-sayang dari hatimu.” (HR. Bukhari).
Nabi Saw. mencontohkan bagaimana menyayangi anak. Pernah Rasulullah Saw. menggendong cucunya, Umamah binti Abi Al-Ash, ketika sedang shalat. Jika rukuk, Umamah diletakkan dan ketika bangun dari rukuk, maka Umamah diangkat kembali.
Pernah juga Rasulullah Saw. bermain kuda-kudaan dengan cucunya yang lain,Hasan dan Husain. Ketika Rasulullah Saw. sedang merangkak di atas tanah,sementara kedua cucunya berada di punggungnya, Umar datang lalu berkata,“Hai Anak, alangkah indah tungganganmu.” Rasulullah Saw. menjawab,“Alangkah indahnya para penunggangnya!”
Tak jarang Rasulullah Saw. menghadapi anak-anak dengan sikap melucu. Bila mendatangi anak-anak kecil, Rasulullah Saw. jongkok di hadapan mereka, memberi pengertian kepada mereka, juga mendo’akan mereka. Begitu hadis riwayat Ath-Thusi menceritakan.
Sementara Usamah bin Zaid memberi kesaksian, “(Sewaktu aku masih kecil ) Rasulullah Saw. pernah mengambil aku untuk didudukkan pada pahanya, sedangkan Hasan didudukkan pada paha beliau yang satunya, kemudian kami berdua didekapnya, seraya berdo’a, “Ya Allah,kasihanilah keduanya, karena aku telah mengasihi keduanya.” (HR. Bukhari).
Abu Hurairah ra pernah menceritakan: “Rasulullah saw pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali ra. Iapun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.
Pernah Beliau sholat sambil menggendong Umamah putri Zaenab binti Rasulullah saw dari suaminya yang bernama Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’. Pada saat berdiri, beliau menggendongnya dan ketika sujud, beliau meletakkannya. (Muttafaq ‘alaih)
Kisah tentang Rasulullah Saw. bersama anak adalah kisah tentang kasih-sayang. Ia memendekkan shalatnya ketika mendengar tangis anak. Karena anak pula, Rasulullah Saw. pernah bersujud sangat lama. Begitu lamanya Rasulullah Saw. bersujud sampai-sampai para sahabat mengira Rasulullah Saw. sedang menerima wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah, ada cucu yang menaiki punggungnya.
Tentang mencintai anak, Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, tepatilah. sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki.” (HR. Ath-Thahawi).
Air mata Nabi Muhammad saw menetes disebabkan kematian putra beliau bernama Ibrahim, Abdurrahman bin ‘Auf ra bertanya kepada beliau: “Apakah Anda juga menangis wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah Ta’ala. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari)
Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah, namun Nabi Muhammad saw tidaklah marah, memukul, membentak, dan menghardik mereka. Beliau tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang dalam menghadapi mereka.
Hari ini, ketika kita mengaku sebagai ummat Muhammad, apakah yang sudah kita lakukan pada anak-anak kita? Apakah kita telah mengusap kepala anak-anak kita sebagaimana Rasulullah Saw. melakukan? Apakah kita juga telah mengecup kening anak-anak kita yang sangat rindu kasih-sayang bapaknya?
Ataukah kita seperti Aqra’ bin Habis At-Tamimi yang tak pernah
mencium anaknya, sehingga Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari).
Kita ingin disayangi oleh anak-anak kita ketika usianya telah tua, tetapi tidak pernah menanam cinta dan kasih-sayang. Kita ingin dirindukan oleh anak-anaknya di saat renta, tetapi tak pernah punya waktu untuk tertawa bersama. Banyak yang merasa, kerja sehari telah cukup untuk membeli semua. Sehingga tidak ada yang mengetahui urusan anak di rumah, kecuali istri. Bahkan yang lebih tragis, istri pun tak tahu sama sekali, sebab telah ada pembantu yang menggantikan semuanya.
Astaghfirullahal ‘adzim. Alangkah sering kita merasa suci, padahal tak satu pun perilaku Nabi Saw kepada anak atau istri yang sanggup kita contoh.
Saat Rasulullah menghadapi sakaratul maut
Salam ukhuwwah,
Di sini onesue sertakan titipan dari seorang sahabat menceritakan dengan begitu puitis berkenaan cinta Rasulullah terhadap umatnya. Oleh itu, marilah kita sama-sama berusaha untuk meninggalkan segala kemungkaran dan berusaha sedaya upaya untuk menjadi umat Nabi Muhammad saw yang terbaik sebagai menyambut cinta yang begitu agung darinya
Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut
Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.
Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurunenggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah,"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allahdan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskandua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelakorang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Alimenundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kalaitu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda- tanda itu semakin kuat,tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yangberkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalaumampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alastidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,"Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullahmenatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian panggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menantikedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi."Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir,wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah beradadi dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu."Siapakah yang sanggup,melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulait erdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup kantangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan,berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wasalim 'alaihi.
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Ingatkan sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya,seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin...
Di sini onesue sertakan titipan dari seorang sahabat menceritakan dengan begitu puitis berkenaan cinta Rasulullah terhadap umatnya. Oleh itu, marilah kita sama-sama berusaha untuk meninggalkan segala kemungkaran dan berusaha sedaya upaya untuk menjadi umat Nabi Muhammad saw yang terbaik sebagai menyambut cinta yang begitu agung darinya
Detik-detik Rasulullah SAW Menghadapi Sakaratul Maut
Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.
Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurunenggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah,"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allahdan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskandua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelakorang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Alimenundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kalaitu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya didunia. Tanda- tanda itu semakin kuat,tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yangberkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalaumampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alastidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,"Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullahmenatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian panggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menantikedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi."Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir,wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah beradadi dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu."Siapakah yang sanggup,melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar pintu tangis mulait erdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutup kantangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan,berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wasalim 'alaihi.
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Ingatkan sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya,seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin...
Hukum Tukar Cincin Kawin dalam Pandangan Islam - Dalil Tentang Haramnya Emas Bagi Kaum Laki-laki
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....
Bismillahirrahmaanirrahiim....
Kalau kita telusuri dengan teliti, rupanya budaya pemakaian cincin kawin tidak dikenal dalam Islam, meski cincin itu bukan dari emas. Ini lebih merupakan produk budaya kelompok masyarakat tertentu. Sebagian ulama mengatakan bahwa cincin kawin itu berasal dari budaya barat.
Karena itulah ada sementara pendapat yang mengharamkan penggunaan cincin kawin karena dianggap menyerupai dengan orang kafir. Dengan dalil sabda Rasulullah SAW, "Siapa yang menyerupai orang kafir, maka dia termasuk bagian dari mereka."
Meski demikian, masih perlu dipelajari lebih lanjut apakah memang tukar cincin itu sendiri merupakan bagian dari agama mereka atau sekedar kebiasaan yang telah menjadi ‘urf dan bebas nilai.
Dalam hasdits Nabawi disebutkan bahwa salah satu bentuk mahar adalah cincin meskipun hanya terbuat dari besi. Rasulullah SAW bersabda, ”Berikanlah mahar meski hanya berbentuk cincin dari besi”.
Namun hadits ini tidak menyiratkan adanya bentuk tukar cincin antar kedua mempelai, tapi lebih merupakan anjuran untuk memberi mahar meski hanya sekedar cincin dari besi. Jadi bukan cincin kawin yang dimaksud. Dan cincin dari besi itu diberikan pihak laki-laki sebagai mahar kepada pihak isteri. Sedangkan pihak isteri tidak memberi cincin itu kepada laki-laki.
Para ulama semua sepakat untuk mengharamkan laki-laki memakai emas, seperti dalam bentuk cincin, kalung, anting, gelang, jam atau pun asesoris yang menempel pada pakaian.
Nyaris tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini untuk keharamannya. Hal itu lantaran dalil-dalilnya memang sangat jelas dan tegas. Di antaranya adalah:
Dari Abi Musa ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Telah diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi wanitanya.” (HR Turmuzi dengan sanad hasan shahih)
Ali bin Abu Thalib berkata, ”Aku melihat Rasulullah SAW memegang sutera di tangan kanan dan emas di tangan kiri seraya bersabda,”Keduanya ini haram bagi laki-laki dari umatku.” (HR Abu Daud dengan sanad hasan).
Umumnya para ulama tidak membedakan apakah kadar emas itu 24 karat atau kurang dari itu. Sebab nama emas tetap saja lekat meski kadarnya berkurang.
Namun benda yang dicat dengan warna emas, tidak bisa dikatakan sebagai emas. Sehingga tidak menjadi masalah bila seorang laki-laki menggunakan pakaian atau perlengkapan imitasi emas. Hukumnya tidak haram, sebab kenyataannya memang bukan emas, melainkan hanya rupa dan warnanya saja. Yang haram adalah emasnya, bukan kemiripannya.
Kesimpulannya adalah pemakaian cincin emas haram hukumnya dengan dalil yang tegas, ada pun cincin selain emas masih ada perbedaan pendapat, karena keharamannya hanya disebutkan oleh sebagian ulama dengan ijtihad. Dan tidak ada dalil yang tegas untuk mengharamkannya.
Oleh karena itu bila kondisi memaksa harus pakai cincin, buatlah imitasinya, agar anda tidak melakukan sesuatu yang diharamkan Allah SWT. Cincin imitasi sekilas sangat mirip dari emas asli bahkan bisa lebih bagus.
Jangan lupa komentar anda di artikel : Hukum Tukar Cincin Kawin dalam Pandangan Islam - Dalil Tentang Haramnya Emas Bagi Kaum Laki-laki
Wallahu'alam bissowab, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh...
Bismillahirrahmaanirrahiim....
Kalau kita telusuri dengan teliti, rupanya budaya pemakaian cincin kawin tidak dikenal dalam Islam, meski cincin itu bukan dari emas. Ini lebih merupakan produk budaya kelompok masyarakat tertentu. Sebagian ulama mengatakan bahwa cincin kawin itu berasal dari budaya barat.
Karena itulah ada sementara pendapat yang mengharamkan penggunaan cincin kawin karena dianggap menyerupai dengan orang kafir. Dengan dalil sabda Rasulullah SAW, "Siapa yang menyerupai orang kafir, maka dia termasuk bagian dari mereka."
Meski demikian, masih perlu dipelajari lebih lanjut apakah memang tukar cincin itu sendiri merupakan bagian dari agama mereka atau sekedar kebiasaan yang telah menjadi ‘urf dan bebas nilai.
Dalam hasdits Nabawi disebutkan bahwa salah satu bentuk mahar adalah cincin meskipun hanya terbuat dari besi. Rasulullah SAW bersabda, ”Berikanlah mahar meski hanya berbentuk cincin dari besi”.
Namun hadits ini tidak menyiratkan adanya bentuk tukar cincin antar kedua mempelai, tapi lebih merupakan anjuran untuk memberi mahar meski hanya sekedar cincin dari besi. Jadi bukan cincin kawin yang dimaksud. Dan cincin dari besi itu diberikan pihak laki-laki sebagai mahar kepada pihak isteri. Sedangkan pihak isteri tidak memberi cincin itu kepada laki-laki.
Para ulama semua sepakat untuk mengharamkan laki-laki memakai emas, seperti dalam bentuk cincin, kalung, anting, gelang, jam atau pun asesoris yang menempel pada pakaian.
Nyaris tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini untuk keharamannya. Hal itu lantaran dalil-dalilnya memang sangat jelas dan tegas. Di antaranya adalah:
Dari Abi Musa ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Telah diharamkan memakai sutera dan emas bagi laki-laki dari umatku dan dihalalkan bagi wanitanya.” (HR Turmuzi dengan sanad hasan shahih)
Ali bin Abu Thalib berkata, ”Aku melihat Rasulullah SAW memegang sutera di tangan kanan dan emas di tangan kiri seraya bersabda,”Keduanya ini haram bagi laki-laki dari umatku.” (HR Abu Daud dengan sanad hasan).
Umumnya para ulama tidak membedakan apakah kadar emas itu 24 karat atau kurang dari itu. Sebab nama emas tetap saja lekat meski kadarnya berkurang.
Namun benda yang dicat dengan warna emas, tidak bisa dikatakan sebagai emas. Sehingga tidak menjadi masalah bila seorang laki-laki menggunakan pakaian atau perlengkapan imitasi emas. Hukumnya tidak haram, sebab kenyataannya memang bukan emas, melainkan hanya rupa dan warnanya saja. Yang haram adalah emasnya, bukan kemiripannya.
Kesimpulannya adalah pemakaian cincin emas haram hukumnya dengan dalil yang tegas, ada pun cincin selain emas masih ada perbedaan pendapat, karena keharamannya hanya disebutkan oleh sebagian ulama dengan ijtihad. Dan tidak ada dalil yang tegas untuk mengharamkannya.
Oleh karena itu bila kondisi memaksa harus pakai cincin, buatlah imitasinya, agar anda tidak melakukan sesuatu yang diharamkan Allah SWT. Cincin imitasi sekilas sangat mirip dari emas asli bahkan bisa lebih bagus.
Jangan lupa komentar anda di artikel : Hukum Tukar Cincin Kawin dalam Pandangan Islam - Dalil Tentang Haramnya Emas Bagi Kaum Laki-laki
Wallahu'alam bissowab, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh...
Menikmati Penyakit
Assalamualaiku ..... Dalam menjalani hidup
ini sudah menjadi sunnatullah bahwa ada siang dan malam, ada sakit dan
sehat, ada tua dan muda, ada kaya dan miskin dan seterusnya. Pada
perputaran waktu dan keadaan itulah kita menemukan kebesaran Tuhan.
Saat miskin kita ingin menjadi kaya. Saat tua menjelang kita menyesali waktu muda yang telah lewat. Saat sakit kita baru menyadari betapa nikmatnya sehat. Tapi ada orang yang menikmati penyakitnya bahkan tidak mau sehat. Seperti halnya menikmati malam saat gelap ditemani rembulan dan bintang-bintang. Gak percaya? Coba perhatikan diri kita maupun orang-orang di sekeliling kita. Kita pasti akan menemukan orang-orang yang menikmati penyakitnya dan gak mau sehat.
Kita terkadang suka munafik terhadap diri kita. Suka berbohong terhadap diri sendiri. Tak terkecuali saya. Heheheh... :) Kita bilang mau sehat tapi kita merokok. Kita bilang kita menyayangi anak dan istri tapi menghembuskan asap rokok ke wajah mereka, memenuhi udara yang mereka hirup dengan asap rokok. Kita bilang kita ingin hidup sehat dan bahagia tapi kita memenuhi perut kita dengan segala macam sampah dan bibit penyakit.
Dalam keadaan sakit, sekalipun menderita, kita malah gak mau sembuh. Setelah minum obat kita berharap akan sakit kembali.
Sependek pengalaman saya berurusan dengan orang sakit, saya selalu menemukan bahwa pasien yang sakit kronis itu disebabkan oleh diri mereka sendiri. Setelah sembuh dari sakit, mereka selalu menunggu waktu untuk sakit kembali. Penyakit itu selalu dipanggil hadir dalam hidup mereka. Terutama penyakit-penyakit yang dicetuskan dan diperberat oleh stres.
Sebagai contoh, pasien sakit maag kronis selalu sembuh pada bulan Ramadhan kecuali yang memiliki kondisi jiwa yang sangat labil atau kelainan organ yang serius. Perutnya terasa mulai sakit pada saat dekat waktu berbuka. Kenapa? Karena saat menjelang berbuka dia ingat makanan, dia ingat dia sakit maag. Jadi dia mulai memanggil penyakitnya untuk hadir. Uh... seperti orang animisme memanggil roh orang mati aja ya... Hehehe... :) Begitulah... Karena dipanggil ya jelas aja penyakit itu datang. Ibaratnya, datang tidak dijemput, pulang tidak diantar. Heheheh... :) Cuma perlu dipanggil...
Bagaimana caranya untuk sehat?
Sehat itu dimulai dari diri kita. Kekuatan hati dan keyakinan kitalah yang membantu tubuh kita untuk sembuh. Kenapa pengobatan alternatif mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia? Karena percaya dengan paranormal yang mengobati. Kalau kita tidak percaya maka kita tidak akan sembuh. Begitupun saat pasien berurusan dengan dokter. Kepercayaan pasien pada dokter akan membantu pasien untuk sembuh.
Kita harus melatih diri kita untuk menikmati sehat, bukan untuk menikmati penyakit. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan psikis hanya dapat disembuhkan bila kita ingin sembuh dan tidak menikmati penyakit. Perasaan dan pikiran kita sangat menentukan kondisi tubuh kita. Bila kita mengingat sakit terus menerus maka sakit akan bersahabat dengan kita dan tidak mau pergi. Seperti halnya kekasih hati yang selalu kita ingat dan menemani kita, maka penyakit yang selalu kita ingat pada akhirnya akan menjadi kekasih yang senantiasa menemati kita. Nah, kalo ingin sehat maka lupakanlah penyakit itu, biarkan dia pergi dengan penuh rasa ikhlas. :) Jangan panggil-panggil dia untuk kembali, tidak dalam pikiran kita, tidak pula dalam hati kita. Semoga kita senantiasa sehat karena kita mencintai sehat dan menjadikannya kekasih kita dalam menjalani kehidupan ini. Kita hanya menerima seperti apa persangkaan kita terhadap hidup kita. Seperti dalam sebuah hadist qudsi, Allah berkata : Aku berada dalam persangkaan hambaKu.***
Saat miskin kita ingin menjadi kaya. Saat tua menjelang kita menyesali waktu muda yang telah lewat. Saat sakit kita baru menyadari betapa nikmatnya sehat. Tapi ada orang yang menikmati penyakitnya bahkan tidak mau sehat. Seperti halnya menikmati malam saat gelap ditemani rembulan dan bintang-bintang. Gak percaya? Coba perhatikan diri kita maupun orang-orang di sekeliling kita. Kita pasti akan menemukan orang-orang yang menikmati penyakitnya dan gak mau sehat.
Kita terkadang suka munafik terhadap diri kita. Suka berbohong terhadap diri sendiri. Tak terkecuali saya. Heheheh... :) Kita bilang mau sehat tapi kita merokok. Kita bilang kita menyayangi anak dan istri tapi menghembuskan asap rokok ke wajah mereka, memenuhi udara yang mereka hirup dengan asap rokok. Kita bilang kita ingin hidup sehat dan bahagia tapi kita memenuhi perut kita dengan segala macam sampah dan bibit penyakit.
Dalam keadaan sakit, sekalipun menderita, kita malah gak mau sembuh. Setelah minum obat kita berharap akan sakit kembali.
Sependek pengalaman saya berurusan dengan orang sakit, saya selalu menemukan bahwa pasien yang sakit kronis itu disebabkan oleh diri mereka sendiri. Setelah sembuh dari sakit, mereka selalu menunggu waktu untuk sakit kembali. Penyakit itu selalu dipanggil hadir dalam hidup mereka. Terutama penyakit-penyakit yang dicetuskan dan diperberat oleh stres.
Sebagai contoh, pasien sakit maag kronis selalu sembuh pada bulan Ramadhan kecuali yang memiliki kondisi jiwa yang sangat labil atau kelainan organ yang serius. Perutnya terasa mulai sakit pada saat dekat waktu berbuka. Kenapa? Karena saat menjelang berbuka dia ingat makanan, dia ingat dia sakit maag. Jadi dia mulai memanggil penyakitnya untuk hadir. Uh... seperti orang animisme memanggil roh orang mati aja ya... Hehehe... :) Begitulah... Karena dipanggil ya jelas aja penyakit itu datang. Ibaratnya, datang tidak dijemput, pulang tidak diantar. Heheheh... :) Cuma perlu dipanggil...
Bagaimana caranya untuk sehat?
Sehat itu dimulai dari diri kita. Kekuatan hati dan keyakinan kitalah yang membantu tubuh kita untuk sembuh. Kenapa pengobatan alternatif mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia? Karena percaya dengan paranormal yang mengobati. Kalau kita tidak percaya maka kita tidak akan sembuh. Begitupun saat pasien berurusan dengan dokter. Kepercayaan pasien pada dokter akan membantu pasien untuk sembuh.
Kita harus melatih diri kita untuk menikmati sehat, bukan untuk menikmati penyakit. Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan psikis hanya dapat disembuhkan bila kita ingin sembuh dan tidak menikmati penyakit. Perasaan dan pikiran kita sangat menentukan kondisi tubuh kita. Bila kita mengingat sakit terus menerus maka sakit akan bersahabat dengan kita dan tidak mau pergi. Seperti halnya kekasih hati yang selalu kita ingat dan menemani kita, maka penyakit yang selalu kita ingat pada akhirnya akan menjadi kekasih yang senantiasa menemati kita. Nah, kalo ingin sehat maka lupakanlah penyakit itu, biarkan dia pergi dengan penuh rasa ikhlas. :) Jangan panggil-panggil dia untuk kembali, tidak dalam pikiran kita, tidak pula dalam hati kita. Semoga kita senantiasa sehat karena kita mencintai sehat dan menjadikannya kekasih kita dalam menjalani kehidupan ini. Kita hanya menerima seperti apa persangkaan kita terhadap hidup kita. Seperti dalam sebuah hadist qudsi, Allah berkata : Aku berada dalam persangkaan hambaKu.***
Kenapa Harus Aku Yang Di Uji ?
Alhamdulillah maha suci Allah yang menciptakan persoalan –
persoalan bagi kita, yang dengan persoalan itu seharusnya kita jadi
tambah ilmu, tambah pengalaman, tambah wawasan dan tambah iman.
Memang ada kalanya hidup tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Gelombang ujian dan cobaan seakan tak henti menerpa. Dari yang hanya membuat kita tertegun sejenak hingga yang menjadikan kita terkapar tak berdaya karenanya. Pedih dan getirpun menjadi rasa yang tertuai.
Namun ketika persoalan itu muncul, terkadang yang terucap dari mulut kita adalah “ Ya allah kenapa harus aku yang di uji?” seolah – olah menyalahkan dan bersu’udzon kepada allah. seolah Allah tidak berpihak, sudah tahajjud, shaum senin kamis, shaum daud, kok Allah tidak berpihak juga ya, pernah tidak seperti itu? Nah jadi kita ini bukan saja harus menyadari, namun juga harus bertanya pada diri sendiri, hidup ini untuk apa? jawaban yang tepat untuk ibadah bukan? sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzariyaat:56 yang artinya "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (ibadah) kepada-Ku".
Kalau begitu tidak ada alasan untuk bersedih, apalagi setelah kita merenungi hadits Rasulullah SAW yang kutipannya seperti ini, bahwa Allah sedang memilih kepada siapa cinta-Nya akan diberikan, kemudian Allah akan menguji hambanya dengan memberi cinta-Nya apabila hambanya dapat sabar dalam cobaannya itu Allah akan memilihnya untuk memberikan cinta-Nya dan apabila dia ikhlas, maka Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dan ridho Allah ada beserta hambanya yang ridho dan ikhlas.Jadi kalau lagi susah hati itu bukan berarti Allah tidak berpihak, kenapa? karena Allah sedang menguji kita dalam keadaan tidak berkenan, tidak enak, tidak menyenangkan, cinta kita kepada Allah harus tetap tinggi. Adanya kesedihan yang muncul, adanya fikiran kondisi tersebut karena Allah tidak berpihak, jangan sampai membuat kita larut didalamnya, kenapa? karena kalau dalam keadaan begitu Allah memanggil kita kemudian wafat, kita bagaimana?
Idealnya kita hidup di dunia ini ingin merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Tapi ternyata justru yang namanya hidup, pasti penuh dengan ujian, sebuah keniscayaan yang telah jadi sunatullohNya. Pada dasarnya kehidupan kita adalah kumpulan dari m asalah demi masalah. Bahwa pergantian dan perpindahan dari satu waktu ke waktu yang lain adalah perpindahan dan pergantian masalah demi masalah. Karena hidup adalah tempatnya ujian atau masalah. Sebagaimana firmannya :
“ Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah – buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang – orang yang sabar “ (Q.S Al baqarah : 155 )
“ Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk kami menguji mereka siapakah diantaranya yang terbaik perbuatannya” ( Q.S al Kahfi : 7 )
“ Apakah mereka mengira bahwa mereka akan di biarkan hanya dengan mengatakan “kami telah beriman” dan mereka tidak di uji? Dan sungguh, kami telah menguji orang – orang sebelum mereka, maka allah pasti mengetahui orang – orang yang benar dan pasti mengetahui orang – orang yang dusta” ( Q.S Al Ankabut 2- 3 )
karena hidup itu warna warni. ada suka, ada juga duka, ada tertawa ada menangis. Kita senantiasa berhadapan dengan masalah. Hanya saja kadarnyamasalah itu berbeda – beda sesuai tingkatan kemampuan seseorang dalam memikulnya. Karena hidup tidak selamanya merasakan kebahagiaan saja pun tidak hanya merasakan kesedihan saja, setiap manusia pasti memiliki episodenya masing-masing. Yang menjadi masalah sebenarnya bukan pada masalahnya, namun masalah yang utama adalah sikap kita terhadap suatu masalah. Dengan masalah yang sama ada yang bersyukur, dan yang lain ada sebaliknya. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya urusan orang beriman itu selalu baik, apabila di timpa kebaikan ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Dan apabila ia di timpa kesusahan ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”
Sebuah contoh sederhana, ketika seseorang kehilangan sepasang alas kakinya, sandal atau sepatu miliknya, pada detik itu ia merasa mendapat musibah, namun tidak lama menjelang ia melihat orang yang kehilangan kakinya, iapun bersyukur. Kenapa? Karena dirinya hanya kehilangan alas kakinya saja, sementara saudaranya kehilangan kaki yang tidak ternilai harganya. Subhanalloh. Jadi sebenarnya jangan takut oleh persoalan hidup apapun, tapi takut salah menghadapi persoalan hidup. yang harus terus kita yakini bahwa getirnya hidup, tidaklah menandakan rahmat allah telah sirna, perihnya cobaan, bukanlah isyarat bahwa kemurkaan allah sedang menggelayuti kehidupan ini. Sebaliknya, getir dan perihnya rasa yang kita alami dapat menjadi tanda bahwa allah sedang menghapus dosa – dosa yang pernah kita perbuat. Karena ada dosa yang tidak bisa di hapuskan kecuali oleh rasa getir dan perih. Ada dosa yang tidak bisa terhapus hanya oleh air mata penyesalan. Ketika pedihnya terasa, disanalah dosa akan terampuni. Saat getirnya membuncah di situlah kesucian akan tertuai. Hasilnya hatipun menjadi tenang dan keberkahan hidup menjadi jaminan.
Bila air dari gelas tumpah, apalah perlunya pikiran dan hati tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan berlarut-larut. Biarlah semuanya terjadi sesuai dengan ketetapan Allah. Kuatkan pikiran kita untuk mencari air yang baru. Dengan demikian, Insya Allah tumpahnya air akan menjadi keuntungan karena kita mendapatkan pahala sabar serta pahala ikhtiar. Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jabatan atau kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan bisa kita miliki. Meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.
"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.." (al-Hadiid: 22-23)
Jadi ketika persoalan hidup datang menghampiri kita, apa yang harus kita lakukan? Yang pertama adalah Hati siap menghadapi yang cocok dengan keinginan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keinginan. “ Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui “ ( Q.S Al Baqarah : 216 ) karena jelek menurut kita belum tentu jelek juga menurut allah, ilmu allah sangat luas sedangkan ilmu kita sangatlah terbatas, siapa tahu yang menurut kita itu jelek, ternyata itu adalah jalan kebaikan bagi kita. Seperti minum jamu, diawal ketika kita meminumnya, kita akan merasakan pahitnya jamu, tapi coba kita rasakan setelah minum jamu, badan menjadi terasa lebih sehat, begitu juga dengan ujian yang datang menimpa kita, pahit memang, getir juga iya, tapi ketika kita bisa menyikapi ujian yang kita hadapi itu dengan berhusnudzan pada allah, maka tidak hanya hati kita yang menjadi tenang, tapi akhlak menjadi cemerlang dan allah pun pasti akan sayang. Kita boleh saja menangis, tapi ini bukanlah akhir dari segalanya. Bukan kah selama ini kita meminta pada allah untuk di tunjukkan jalan yang terbaik? Dan mungkin iniah caranya allah untuk menunjukkan kepada kita mana jalan yang terbaik bagi kita. Jika dengan datangnya ujian ini bisa menjadikan kita menjadi lebih mengenal, dekat dan lebih cinta kepada allah kenapa kita harus tidak rela? Ketika ujian ini bisa membuat kita memperbaiki diri kenapa kita harus kecewa? Yang penting tugas kita adalah luruskan niat, ibadah dan ikhtiar kita sempurnakan, selanjutya terserah allah, karena tugas kita bukan menentukan segala – galanya.
Manusia hanya tahu apa yang telah terjadi dan dialaminya, akan tetapi ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa datang. Karena itu manusia perlu mendasarkan semua yang diinginkan dan diusahakannya menurut ketentuan Allah dan dalam batas-batas yang diridlai-Nya. Segala sesuatu yang terjadi, tidak ada yang di luar kehendak Allah. Orang yang teguh imannya kepada Allah, ia yakin bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Oleh karena itu orang beriman tidak mengenal putus asa. Jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan atas dirinya, ia segera ingat kepada Allah. Boleh jadi ada hikmahnya, yang saat ini ia belum mengetahuinya, ia dapat menghindari rasa kecewa. Firman Allah: Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (Q. S. 4 : 19)
Langkah yang kedua adalah kalau sudah terjadi harus Ridho. Karena tidak ridho pun tetap terjadi. Orang itu menderita bukan karena kenyataannya, tapi karena tidak bisa menerima kenyataan. Dan orang yang enak itu adalah orang yang bisa menghadapi kenyataan. Karena ridho itu sendiri adalah menerima kenyataan sambil memperbaiki keadaan. Terkadang kita sering mengeluh pada allah, “ Ya allah, kenapa ujianku seberat ini?” ingat “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya itu” (Q.S Al Baqarah : 286) Allah maha tahu kadar kesanggupan kita dalam menghadapi ujiannya itu. Dan kita pasti mampu untuk menghadapinya. Ketika ingin naik jabatan, kita rela bekerja sebaik mungkin demi mendapatkan posisi yang kita inginkan,dan kita begitu senang ketika sudah mendapatkannya, apalagi ini, ujian yang kita hadapi ini tidak lain adalah agar kita menjadi hamba yang tinggi derajatnya di sisi allah, apakah kita tidak merasa bangga, karena kita adalah hamba yang masih di perhatikan dan di sayangi olehNya.
Langkah yang ketiga, ketika kita di uji adalah jangan mempersulit diri, Yassiru walaa tuassiru ya allah mudahkanlah jangan di persulit. lantas apakah kita harus frustasi dan berputus asa?
“ Dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang yang beriman” ( Q.S Ali Imran : 139 )
“ Janganlah kamu berputus asa dari rahmat allah, sesungguhnya allah mengampui dosa – dosa semuanya. Sungguh dia lah yang maha pengampun dan maha penyayang”( Q.S Az Zumar :53 )
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat allah sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat allah kecuali orang kafir “ ( Q.S Yusuf : 87 )
Ayat – ayat di atas tentulah sudah cukup menjelaskan bagaimana kita harus menyikapi suatu ujian, Saat ini kita takut kehilangan, mulai saat ini kita tidak takut lagi, rezeki kita di tahan,tenang saja, sejak dari rahim 4 bulan, allah sudah takdirkan rezeki kita. kalau kita sedang ada masalah, tenang saja, karena tidak tenangpun tetap muncul masalah. jadi tidaklah benar jika datangnya ujian menghampiri kita, membuat kita semakin terpuruk, atau bahkan lebih parah lagi nyaris bunuh diri karena tidak sanggup menghadapinya. Naudzubillah.
Selanjutnya yang ke empat adalah evaluasi diri. Tafakuri diri, kenapa ini terjadi, Karena tidak ada suatu kejadian tanpa seizin allah dan tidak ada sesuatu yang kebetulan melainkan atas kehendaknya. Tayakan dengan jujur pada diri sendiri apa salah saya? Apa perbaikan yang harus saya lakukan. dan berusaha untuk berubah menjadi lebih baik.
Kita harus siap ketika ujian dan cobaan akan terus menerus datang menghampiri. Ia tidak akan hilang hingga segala karat – karat dosa kita terkikis olehnya. Seperti buah kelapa, untuk dapat diambil santannya ia harus di jatuhkan terlebih dahulu dari pohonnya yang tinggi, kemudian kulitnya harus di kelupas dengan paksa hingga tak tersisa lagi.setelah bersih, ia lalu di belah menjadi beberapa bagian. setelah itu, potongan – potogan kelapa tersebut lalu di parut hingga hancur dan hanya menyisakan ampasnya. Apakah telah selesai? Tentu saja belum, karena ampas kelapa itu akan diperas hingga keluarlah santan, yang di sana manfaatnya baru terasa. Begitu juga sifat dari ujian dan cobaan, ia akan terus melumat dan menghancurkan segalanya, hingga yang tersisa adalah bagian – bagian dari diri kita yang secara kualitas, telah siap menjadi para pencintaNya.
Lalu kapan ujian ini akan segera berakhir? ingat rumus puasa, kita menahan lapar dan haus karena yakin sebentar lagi akan tiba saatnya untuk berbuka. hujan pasti berakhir, badai pasti berlalu dan malam akan berganti siang. semakin beratnya ujian justru semakin dekat dengan jalan keluar.
“maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” ( Q.S Al Insyirah : 5-6 ) Setiap satu kesulitan di apit oleh dua kemudahan. Dan rumus dalam menyikapinya adalah HHN ( Hadapi Hayati dan Nikmati ) tidak akan kemana – mana pasti akan ada ujungnya.
Yakinlah bahwa setiap masalah sudah terukur oleh allah yang maha mengetahui kesanggupan hambanya dalam menerima ujian dan masalah. Hanya kita sering berprasangka buruk pada allah dan membatasi diri. Apabila kita berfikir berat, maka akan berat terasa masalahnya. Demikian juga sebaliknya. Berhati – hatilah dengan fikiran kita, karena ia akan menjadi perkataan kita, dan berhati – hatilah dengan perkataan karena ia akan menjadi perbuatan, berhati – hatilah dengan perbuatan karena akan menjadi kebiasaan, serta kebiasaan akan membentuk watak /akhlak.
Lalu pada siapa aku harus berharap? Dan inilah langkah yang kelima Bersandar hanya pada allah.”Cukuplah allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia dan hanya kepadaNya aku bertawakal.” (Q.S At Taubah : 129). Orang yang bersandar terhadap sesuatu takut sandarannya hilang, seorang istri yang bersandar kepada suami, takut kehilangan suaminya, Bagi kita sebagai orang beriman, cukuplah allah saja yang menjadi penolong kita. Ia menjadi penentu segala – galanya. Jadikan setiap masalah menjadi bahan evaluasi diri, jalan memperbaiki diri dan jalan mendekat kepada allah. Bagaimana caranya? “ wahai orang – orang yang beriman mohonlah pertolongan kepada allah dengan sabar dan shalat, sungguh allah beserta orang-orang yang sabar” (Q.S Al Baqarah : 153) Memohonlah kepada allah untuk segera di beri jalan keluar dari setiap masalah, tingkatkan terus ibadah kita kepada allah, perbaiki shalat kita serta jangan lelah untuk bersabar. Berusahalah untuk menjadi orang yang bertakwa, karena tidak akan rugi, ketika kita berusaha untuk menjadi orang yang bertakwa, maka allah akan memberi kita jalan keluar dari setiap masalah dan akan memberi kita rezeki dari arah yang tidak di sangka – sangka. kita hidup tidak sendiri. Selalu ada Allah dalam hati dan hidup kita dan Allah tidak akan membiarkan Hamba-Nya dalam keterpurukan yang berkepanjangan.
Karena itu, saat ujian dan cobaan datang, Segeralah bertaubat agar tak hanya pintu taubat yang terbuka, namun status menjadi pencintaNya pun akan menjadi milik kita, tetapi bila ujian dan cobaan itu belum tiba, jangan terlena olehnya. Tetaplah mendekatkan diri padaNya dan selalu menempatkan allah sebagai satu – satunya tujuan dalam hidup kita. Semua orang punya masalah, maka sebaiknya permohonan kita kepada allah bukanlah tidak punya masalah tetapi mintalah kepadaNya agar kita di beri kekuatan untuk menghadapi setiap masalah. Karena semua masalah dan ujian adalah bagian dari tabiyah Allah atas kualitas hambanya. Pasti ada kebaikan di balik setiap masalah yang menimpa kita. jangan pernah khawatir karena sudah pasti Allah mempunyai rahasia dibalik semuanya. Yakinlah dengan semua ujian yang Allah berikan.“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. (Q.S At Taubah : 111 )
Semoga Allah menggolongkan kita menjadi hamba-hambanya yang penuh semangat dan gairah hidup untuk menyempurnakan ikhtiar di jalan yang diridhai-Nya, sehingga hidup singkat di dunia benar-benar penuh kesan dan arti. Kita hidup didunia harus jelas tujuannya.cita-cita terbesar dalam hidup kita ialah berjumpa dengan Allah SWT. Mengingat mati, tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Setiap detik diisi dengan penuh semangat memperbaiki diri dan berbuat yang terbaik. Semoga kita digolongkan menjadi hamba-hamba yang dicintai Allah SWT. kuncinya hanya satu: kesadaran penuh bahwa hidup didunia ini hanya mampir sebentar saja karena memang bukan disinilah tempat kita yang sebenarnya. Asal usul kita adalah dari surga dan tempat itu yang memang layak bagi kita. Jika berminat dan bersungguh-sungguh berjuang untuk mendapatkannya, maka Allah pun sebenarnya sangat ingin membantu kita untuk kembali ke surga.
Kita memang harus bertindak cermat agar "sang umur", sebagai modal hidup kita, benar-benar efektif dan termanfaatkan dengan baik. Sebab, bisa jadi kita tak lama lagi hidup di dunia ini. Akankah sisa umur ini kita habiskan dengan kesengsaraan dan kecemasan padahal semua itu sama sekali tidak mengubah apapun, kecuali hanya menambah tersiksanya hidup kita? Tidak!, sudah terlalu lama kita menyengsarakan diri. Harus kita manfaatkan sisa umur ini dengan sebaik-baiknya agar mendapat kebahagiaan kekal di dunia dan di akhirat nanti.
Wallahualam bis shawab.
“Ya Allah wahai yang maha tahu segala urusan dan masalah diri kami, berikan kepada kami kelapangan hati ya allah, kejernihan fikiran dan kelapangan qolbu. Agar setiap masalah yang engkau timpakan kepada kami membuat kami semakin mengenal keagunganMu, semakin mengenal kekurangan diri, dan semakin mengenal jalan pulang kepadaMu. Ya Allah dosa kami begitu banyak, sedangkan taat kami sedikit, ampuni segala dosa yang kami lakukan sebanyak apapun dosa itu, sebesar apapun dosa yang kami lakukan. Sebengkok apapun jalan yang kami tempuh luruskan, segelap apapun jalan hidup kami terangkanlah dengan nur hidayahMu, Sesulit apapun masalah yang kami hadapi, mudahkanlah ya Robbana …“
Memang ada kalanya hidup tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Gelombang ujian dan cobaan seakan tak henti menerpa. Dari yang hanya membuat kita tertegun sejenak hingga yang menjadikan kita terkapar tak berdaya karenanya. Pedih dan getirpun menjadi rasa yang tertuai.
Namun ketika persoalan itu muncul, terkadang yang terucap dari mulut kita adalah “ Ya allah kenapa harus aku yang di uji?” seolah – olah menyalahkan dan bersu’udzon kepada allah. seolah Allah tidak berpihak, sudah tahajjud, shaum senin kamis, shaum daud, kok Allah tidak berpihak juga ya, pernah tidak seperti itu? Nah jadi kita ini bukan saja harus menyadari, namun juga harus bertanya pada diri sendiri, hidup ini untuk apa? jawaban yang tepat untuk ibadah bukan? sebagaimana firman Allah dalam surat Adz-Dzariyaat:56 yang artinya "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (ibadah) kepada-Ku".
Kalau begitu tidak ada alasan untuk bersedih, apalagi setelah kita merenungi hadits Rasulullah SAW yang kutipannya seperti ini, bahwa Allah sedang memilih kepada siapa cinta-Nya akan diberikan, kemudian Allah akan menguji hambanya dengan memberi cinta-Nya apabila hambanya dapat sabar dalam cobaannya itu Allah akan memilihnya untuk memberikan cinta-Nya dan apabila dia ikhlas, maka Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dan ridho Allah ada beserta hambanya yang ridho dan ikhlas.Jadi kalau lagi susah hati itu bukan berarti Allah tidak berpihak, kenapa? karena Allah sedang menguji kita dalam keadaan tidak berkenan, tidak enak, tidak menyenangkan, cinta kita kepada Allah harus tetap tinggi. Adanya kesedihan yang muncul, adanya fikiran kondisi tersebut karena Allah tidak berpihak, jangan sampai membuat kita larut didalamnya, kenapa? karena kalau dalam keadaan begitu Allah memanggil kita kemudian wafat, kita bagaimana?
Idealnya kita hidup di dunia ini ingin merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Tapi ternyata justru yang namanya hidup, pasti penuh dengan ujian, sebuah keniscayaan yang telah jadi sunatullohNya. Pada dasarnya kehidupan kita adalah kumpulan dari m asalah demi masalah. Bahwa pergantian dan perpindahan dari satu waktu ke waktu yang lain adalah perpindahan dan pergantian masalah demi masalah. Karena hidup adalah tempatnya ujian atau masalah. Sebagaimana firmannya :
“ Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah – buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang – orang yang sabar “ (Q.S Al baqarah : 155 )
“ Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk kami menguji mereka siapakah diantaranya yang terbaik perbuatannya” ( Q.S al Kahfi : 7 )
“ Apakah mereka mengira bahwa mereka akan di biarkan hanya dengan mengatakan “kami telah beriman” dan mereka tidak di uji? Dan sungguh, kami telah menguji orang – orang sebelum mereka, maka allah pasti mengetahui orang – orang yang benar dan pasti mengetahui orang – orang yang dusta” ( Q.S Al Ankabut 2- 3 )
karena hidup itu warna warni. ada suka, ada juga duka, ada tertawa ada menangis. Kita senantiasa berhadapan dengan masalah. Hanya saja kadarnyamasalah itu berbeda – beda sesuai tingkatan kemampuan seseorang dalam memikulnya. Karena hidup tidak selamanya merasakan kebahagiaan saja pun tidak hanya merasakan kesedihan saja, setiap manusia pasti memiliki episodenya masing-masing. Yang menjadi masalah sebenarnya bukan pada masalahnya, namun masalah yang utama adalah sikap kita terhadap suatu masalah. Dengan masalah yang sama ada yang bersyukur, dan yang lain ada sebaliknya. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya urusan orang beriman itu selalu baik, apabila di timpa kebaikan ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Dan apabila ia di timpa kesusahan ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”
Sebuah contoh sederhana, ketika seseorang kehilangan sepasang alas kakinya, sandal atau sepatu miliknya, pada detik itu ia merasa mendapat musibah, namun tidak lama menjelang ia melihat orang yang kehilangan kakinya, iapun bersyukur. Kenapa? Karena dirinya hanya kehilangan alas kakinya saja, sementara saudaranya kehilangan kaki yang tidak ternilai harganya. Subhanalloh. Jadi sebenarnya jangan takut oleh persoalan hidup apapun, tapi takut salah menghadapi persoalan hidup. yang harus terus kita yakini bahwa getirnya hidup, tidaklah menandakan rahmat allah telah sirna, perihnya cobaan, bukanlah isyarat bahwa kemurkaan allah sedang menggelayuti kehidupan ini. Sebaliknya, getir dan perihnya rasa yang kita alami dapat menjadi tanda bahwa allah sedang menghapus dosa – dosa yang pernah kita perbuat. Karena ada dosa yang tidak bisa di hapuskan kecuali oleh rasa getir dan perih. Ada dosa yang tidak bisa terhapus hanya oleh air mata penyesalan. Ketika pedihnya terasa, disanalah dosa akan terampuni. Saat getirnya membuncah di situlah kesucian akan tertuai. Hasilnya hatipun menjadi tenang dan keberkahan hidup menjadi jaminan.
Bila air dari gelas tumpah, apalah perlunya pikiran dan hati tenggelam dalam kesedihan dan kekecewaan berlarut-larut. Biarlah semuanya terjadi sesuai dengan ketetapan Allah. Kuatkan pikiran kita untuk mencari air yang baru. Dengan demikian, Insya Allah tumpahnya air akan menjadi keuntungan karena kita mendapatkan pahala sabar serta pahala ikhtiar. Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jabatan atau kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan bisa kita miliki. Meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.
"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.." (al-Hadiid: 22-23)
Jadi ketika persoalan hidup datang menghampiri kita, apa yang harus kita lakukan? Yang pertama adalah Hati siap menghadapi yang cocok dengan keinginan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keinginan. “ Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui “ ( Q.S Al Baqarah : 216 ) karena jelek menurut kita belum tentu jelek juga menurut allah, ilmu allah sangat luas sedangkan ilmu kita sangatlah terbatas, siapa tahu yang menurut kita itu jelek, ternyata itu adalah jalan kebaikan bagi kita. Seperti minum jamu, diawal ketika kita meminumnya, kita akan merasakan pahitnya jamu, tapi coba kita rasakan setelah minum jamu, badan menjadi terasa lebih sehat, begitu juga dengan ujian yang datang menimpa kita, pahit memang, getir juga iya, tapi ketika kita bisa menyikapi ujian yang kita hadapi itu dengan berhusnudzan pada allah, maka tidak hanya hati kita yang menjadi tenang, tapi akhlak menjadi cemerlang dan allah pun pasti akan sayang. Kita boleh saja menangis, tapi ini bukanlah akhir dari segalanya. Bukan kah selama ini kita meminta pada allah untuk di tunjukkan jalan yang terbaik? Dan mungkin iniah caranya allah untuk menunjukkan kepada kita mana jalan yang terbaik bagi kita. Jika dengan datangnya ujian ini bisa menjadikan kita menjadi lebih mengenal, dekat dan lebih cinta kepada allah kenapa kita harus tidak rela? Ketika ujian ini bisa membuat kita memperbaiki diri kenapa kita harus kecewa? Yang penting tugas kita adalah luruskan niat, ibadah dan ikhtiar kita sempurnakan, selanjutya terserah allah, karena tugas kita bukan menentukan segala – galanya.
Manusia hanya tahu apa yang telah terjadi dan dialaminya, akan tetapi ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa datang. Karena itu manusia perlu mendasarkan semua yang diinginkan dan diusahakannya menurut ketentuan Allah dan dalam batas-batas yang diridlai-Nya. Segala sesuatu yang terjadi, tidak ada yang di luar kehendak Allah. Orang yang teguh imannya kepada Allah, ia yakin bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Oleh karena itu orang beriman tidak mengenal putus asa. Jika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan atas dirinya, ia segera ingat kepada Allah. Boleh jadi ada hikmahnya, yang saat ini ia belum mengetahuinya, ia dapat menghindari rasa kecewa. Firman Allah: Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak (Q. S. 4 : 19)
Langkah yang kedua adalah kalau sudah terjadi harus Ridho. Karena tidak ridho pun tetap terjadi. Orang itu menderita bukan karena kenyataannya, tapi karena tidak bisa menerima kenyataan. Dan orang yang enak itu adalah orang yang bisa menghadapi kenyataan. Karena ridho itu sendiri adalah menerima kenyataan sambil memperbaiki keadaan. Terkadang kita sering mengeluh pada allah, “ Ya allah, kenapa ujianku seberat ini?” ingat “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya itu” (Q.S Al Baqarah : 286) Allah maha tahu kadar kesanggupan kita dalam menghadapi ujiannya itu. Dan kita pasti mampu untuk menghadapinya. Ketika ingin naik jabatan, kita rela bekerja sebaik mungkin demi mendapatkan posisi yang kita inginkan,dan kita begitu senang ketika sudah mendapatkannya, apalagi ini, ujian yang kita hadapi ini tidak lain adalah agar kita menjadi hamba yang tinggi derajatnya di sisi allah, apakah kita tidak merasa bangga, karena kita adalah hamba yang masih di perhatikan dan di sayangi olehNya.
Langkah yang ketiga, ketika kita di uji adalah jangan mempersulit diri, Yassiru walaa tuassiru ya allah mudahkanlah jangan di persulit. lantas apakah kita harus frustasi dan berputus asa?
“ Dan janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula kamu bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang yang beriman” ( Q.S Ali Imran : 139 )
“ Janganlah kamu berputus asa dari rahmat allah, sesungguhnya allah mengampui dosa – dosa semuanya. Sungguh dia lah yang maha pengampun dan maha penyayang”( Q.S Az Zumar :53 )
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat allah sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat allah kecuali orang kafir “ ( Q.S Yusuf : 87 )
Ayat – ayat di atas tentulah sudah cukup menjelaskan bagaimana kita harus menyikapi suatu ujian, Saat ini kita takut kehilangan, mulai saat ini kita tidak takut lagi, rezeki kita di tahan,tenang saja, sejak dari rahim 4 bulan, allah sudah takdirkan rezeki kita. kalau kita sedang ada masalah, tenang saja, karena tidak tenangpun tetap muncul masalah. jadi tidaklah benar jika datangnya ujian menghampiri kita, membuat kita semakin terpuruk, atau bahkan lebih parah lagi nyaris bunuh diri karena tidak sanggup menghadapinya. Naudzubillah.
Selanjutnya yang ke empat adalah evaluasi diri. Tafakuri diri, kenapa ini terjadi, Karena tidak ada suatu kejadian tanpa seizin allah dan tidak ada sesuatu yang kebetulan melainkan atas kehendaknya. Tayakan dengan jujur pada diri sendiri apa salah saya? Apa perbaikan yang harus saya lakukan. dan berusaha untuk berubah menjadi lebih baik.
Kita harus siap ketika ujian dan cobaan akan terus menerus datang menghampiri. Ia tidak akan hilang hingga segala karat – karat dosa kita terkikis olehnya. Seperti buah kelapa, untuk dapat diambil santannya ia harus di jatuhkan terlebih dahulu dari pohonnya yang tinggi, kemudian kulitnya harus di kelupas dengan paksa hingga tak tersisa lagi.setelah bersih, ia lalu di belah menjadi beberapa bagian. setelah itu, potongan – potogan kelapa tersebut lalu di parut hingga hancur dan hanya menyisakan ampasnya. Apakah telah selesai? Tentu saja belum, karena ampas kelapa itu akan diperas hingga keluarlah santan, yang di sana manfaatnya baru terasa. Begitu juga sifat dari ujian dan cobaan, ia akan terus melumat dan menghancurkan segalanya, hingga yang tersisa adalah bagian – bagian dari diri kita yang secara kualitas, telah siap menjadi para pencintaNya.
Lalu kapan ujian ini akan segera berakhir? ingat rumus puasa, kita menahan lapar dan haus karena yakin sebentar lagi akan tiba saatnya untuk berbuka. hujan pasti berakhir, badai pasti berlalu dan malam akan berganti siang. semakin beratnya ujian justru semakin dekat dengan jalan keluar.
“maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” ( Q.S Al Insyirah : 5-6 ) Setiap satu kesulitan di apit oleh dua kemudahan. Dan rumus dalam menyikapinya adalah HHN ( Hadapi Hayati dan Nikmati ) tidak akan kemana – mana pasti akan ada ujungnya.
Yakinlah bahwa setiap masalah sudah terukur oleh allah yang maha mengetahui kesanggupan hambanya dalam menerima ujian dan masalah. Hanya kita sering berprasangka buruk pada allah dan membatasi diri. Apabila kita berfikir berat, maka akan berat terasa masalahnya. Demikian juga sebaliknya. Berhati – hatilah dengan fikiran kita, karena ia akan menjadi perkataan kita, dan berhati – hatilah dengan perkataan karena ia akan menjadi perbuatan, berhati – hatilah dengan perbuatan karena akan menjadi kebiasaan, serta kebiasaan akan membentuk watak /akhlak.
Lalu pada siapa aku harus berharap? Dan inilah langkah yang kelima Bersandar hanya pada allah.”Cukuplah allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia dan hanya kepadaNya aku bertawakal.” (Q.S At Taubah : 129). Orang yang bersandar terhadap sesuatu takut sandarannya hilang, seorang istri yang bersandar kepada suami, takut kehilangan suaminya, Bagi kita sebagai orang beriman, cukuplah allah saja yang menjadi penolong kita. Ia menjadi penentu segala – galanya. Jadikan setiap masalah menjadi bahan evaluasi diri, jalan memperbaiki diri dan jalan mendekat kepada allah. Bagaimana caranya? “ wahai orang – orang yang beriman mohonlah pertolongan kepada allah dengan sabar dan shalat, sungguh allah beserta orang-orang yang sabar” (Q.S Al Baqarah : 153) Memohonlah kepada allah untuk segera di beri jalan keluar dari setiap masalah, tingkatkan terus ibadah kita kepada allah, perbaiki shalat kita serta jangan lelah untuk bersabar. Berusahalah untuk menjadi orang yang bertakwa, karena tidak akan rugi, ketika kita berusaha untuk menjadi orang yang bertakwa, maka allah akan memberi kita jalan keluar dari setiap masalah dan akan memberi kita rezeki dari arah yang tidak di sangka – sangka. kita hidup tidak sendiri. Selalu ada Allah dalam hati dan hidup kita dan Allah tidak akan membiarkan Hamba-Nya dalam keterpurukan yang berkepanjangan.
Karena itu, saat ujian dan cobaan datang, Segeralah bertaubat agar tak hanya pintu taubat yang terbuka, namun status menjadi pencintaNya pun akan menjadi milik kita, tetapi bila ujian dan cobaan itu belum tiba, jangan terlena olehnya. Tetaplah mendekatkan diri padaNya dan selalu menempatkan allah sebagai satu – satunya tujuan dalam hidup kita. Semua orang punya masalah, maka sebaiknya permohonan kita kepada allah bukanlah tidak punya masalah tetapi mintalah kepadaNya agar kita di beri kekuatan untuk menghadapi setiap masalah. Karena semua masalah dan ujian adalah bagian dari tabiyah Allah atas kualitas hambanya. Pasti ada kebaikan di balik setiap masalah yang menimpa kita. jangan pernah khawatir karena sudah pasti Allah mempunyai rahasia dibalik semuanya. Yakinlah dengan semua ujian yang Allah berikan.“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”. (Q.S At Taubah : 111 )
Semoga Allah menggolongkan kita menjadi hamba-hambanya yang penuh semangat dan gairah hidup untuk menyempurnakan ikhtiar di jalan yang diridhai-Nya, sehingga hidup singkat di dunia benar-benar penuh kesan dan arti. Kita hidup didunia harus jelas tujuannya.cita-cita terbesar dalam hidup kita ialah berjumpa dengan Allah SWT. Mengingat mati, tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Setiap detik diisi dengan penuh semangat memperbaiki diri dan berbuat yang terbaik. Semoga kita digolongkan menjadi hamba-hamba yang dicintai Allah SWT. kuncinya hanya satu: kesadaran penuh bahwa hidup didunia ini hanya mampir sebentar saja karena memang bukan disinilah tempat kita yang sebenarnya. Asal usul kita adalah dari surga dan tempat itu yang memang layak bagi kita. Jika berminat dan bersungguh-sungguh berjuang untuk mendapatkannya, maka Allah pun sebenarnya sangat ingin membantu kita untuk kembali ke surga.
Kita memang harus bertindak cermat agar "sang umur", sebagai modal hidup kita, benar-benar efektif dan termanfaatkan dengan baik. Sebab, bisa jadi kita tak lama lagi hidup di dunia ini. Akankah sisa umur ini kita habiskan dengan kesengsaraan dan kecemasan padahal semua itu sama sekali tidak mengubah apapun, kecuali hanya menambah tersiksanya hidup kita? Tidak!, sudah terlalu lama kita menyengsarakan diri. Harus kita manfaatkan sisa umur ini dengan sebaik-baiknya agar mendapat kebahagiaan kekal di dunia dan di akhirat nanti.
Wallahualam bis shawab.
“Ya Allah wahai yang maha tahu segala urusan dan masalah diri kami, berikan kepada kami kelapangan hati ya allah, kejernihan fikiran dan kelapangan qolbu. Agar setiap masalah yang engkau timpakan kepada kami membuat kami semakin mengenal keagunganMu, semakin mengenal kekurangan diri, dan semakin mengenal jalan pulang kepadaMu. Ya Allah dosa kami begitu banyak, sedangkan taat kami sedikit, ampuni segala dosa yang kami lakukan sebanyak apapun dosa itu, sebesar apapun dosa yang kami lakukan. Sebengkok apapun jalan yang kami tempuh luruskan, segelap apapun jalan hidup kami terangkanlah dengan nur hidayahMu, Sesulit apapun masalah yang kami hadapi, mudahkanlah ya Robbana …“
Langganan:
Postingan (Atom)




